Berburu HARTA TERPENDAM DI SANGIRAN Bagian 2

Berburu HARTA TERPENDAM DI SANGIRAN Bagian 2 – Bahkan atas kesetiaannya selama 20 tahun menjadi kontributor bagi museum, ia mendapat berbagai penghargaan. Yang terbaru, pada Februari 2015, dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nasional, Anies Baswedan yang sempat berkunjung ke Sangiran. Meski tak pernah belajar arkeologi maupun geologi, kepiawaian Sinyur yang hanya lulusan Sekolah Rakyat dalam mengenali titiktitik tanah yang menyimpan fosil tidak perlu diragukan. Sekali menggali, jarang ia pulang dengan tangan hampa. Karena itulah tak sedikit arkeolog dan peneliti yang kemudian meminta pertimbangan tentang lokasi-lokasi penggalian yang tepat, termasuk para ahli dari Pusat Arkeologi Nasional. Karena pergaulannya dengan para arkeolog itulah, Sinyur pun mampu mengenali berbagai jenis tulang binatang. Sangiran yang terletak di lembah sungai Bengawan Sala dikenal sebagai situs banyak peninggalan manusia purba dan kehidupan fauna prasejarah periode Pleistosen, yang dimulai sekitar dua juta tahun lalu sampai sekitar 10.000 tahun lalu.

Sejak penemuan batu dan rahang manusia purba (Homo erectus) paling primitif, Meganthropus paleojavanicus, oleh arkeolog berkebangsaan Jerman, Ralph von Koenigswald tahun 1930- an, Sangiran menjadi magnet bagi peneliti dari seluruh dunia. Awalnya, para penduduk lokal bekerja untuk Koenigswald dan arkeolog lainnya yang datang belakangan. Mereka menjadi tenaga gali yang membantu eskavasi fosil di beberapa situs di Kubah Sangiran, seperti Ngebung, Grogolan, Krikilan, Dayu, dan Brangkal. Pada akhirnya orang-orang desa itu terbiasa menggali sendiri untuk mencari fosil yang bernilai tinggi, seperti gading dan kepala gajah purba, serta atap tengkorak manusia. Sekalipun tak paham stratigrafi lapisan tanah, mereka tak jarang menemukan fosil berharga tanpa perlu menggali terlalu dalam, seperti pengalaman Sinyur. Di waktu-waktu tertentu, Sinyur berkeliling desa mencari tanah yang diyakininya memiliki kandungan fosil, biasanya tanah yang berkontur atau di lereng bukit. Di tanah yang tidak rata, Sinyur akan lebih mudah mengenali lapisan tanah mana yang menyimpan “harta” galian. “Salah satu penandanya adalah adanya batuan putih yang keras dan lapisan pasir. Biasanya, di tanah seperti itu saya menemukan banyak tulang binatang purba, bahkan di lapisan tanah yang dangkal,” kata Sinyur. Jika menemukan tanah semacam itu, ia segera pergi menemui pemilik lahan untuk meminta izin penggalian. Jika ditemukan fosil, maka ia akan mengirimkannya ke museum. Uang jasa yang didapat kemudian akan dibagi dengan pemilik lahan.

Berkat reputasi Sinyur, hampir tak ada pemilik lahan yang keberatan tanahnya digali, bahkan tanpa izin terlebih dulu. Sering kali, mereka kaget karena tiba-tiba Sinyur datang memberikan uang. Tidak tergiur yang ilegal Sinyur mengaku, meski mendapat uang kompensasi, itu tak lantas membuat dirinya kaya. Sebab fosil bagus, tidaklah muncul setiap hari. Pekerjaan semacam ini hanya bisa membantunya bertahan hidup mengingat penghasilannya sebagai petani lahan kering tak cukup menopang kebutuhannya. Nilai imbalan yang diberikan museum berbeda-beda, tergantung pada jenis fosil, kelangkaan, serta kondisinya. Namun secara umum, nilainya berkisar antara ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Misalnya fosil gading gajah purba yang utuh atau lengkap Rp5 juta, kepala gajah kecil Rp4 juta, atau kepala gajah besar Rp10 juta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *