Membuat Hujan

Bermain air selalu menyenangkan bagi anak-anak. Cukup dengan peralatan sederhana, Mama-Papa bisa bergembira bersama si kecil sambil memperkenalkan sifat-sifat air. Peralatan Peralatan yang ringan tetapi tidak mudah pecah: botol plastik, corong air, saringan kelapa, teko, gayung, gembor, ember kecil, wadah nasi, dan lain-lain.

Baca juga : Beasiswa s2 Jerman

Panduan Bermain 1. Permainan ini dapat dilakukan di kamar mandi atau di halaman rumah. 2. Minta si batita untuk mengisi teko atau gayung dengan air sampai penuh. Kemudian, biarkan ia menuangkannya ke saringan atau wadah nasi yang bolong-bolong sehingga air yang keluar menyerupai hujan. Sesekali gantilah dengan peralatan berlubang lainnya. 3. Dendangkan sebuah lagu, semisal “Rintik Hujan”, sambil si kecil menuangkan air. Kemudian, biarkan air “hujan” tersebut mengenai muka dan badannya.

Kecerdasan Yang Dikembangkan

? Kecerdasan Visual-Spasial Saat si batita memenuhi gayung atau teko dengan air yang akan dituangkan ke dalam saringan untuk membuat hujan, ia harus memusatkan perhatian sekaligus mempelajari konsep penuh dan kosong. Bila suatu wadah diisi terlalu penuh dengan air, maka air itu akan meluap. Selain itu, ia belajar sifat benda cair bahwa air akan mengikuti bentuk dari wadahnya. ? Kecerdasan Kinestetik-Jasmani Gerakan menuangkan air membutuhkan kemampuan motorik kasar dan halusnya, sehingga permainan ini akan menjadi sarana barlatih kemampuan motorik yang baik. ? Kecerdasan Naturalis Dengan bermain hujan buatan, si batita belajar mengenai alam. Misalnya, air akan turun dari atas ke bawah, air bisa menghidupi tanaman, dan perlu untuk merawat alam.

Usia Orangtua Berkaitan Risiko Autisme

Menurut penelitian yang dilakukan oleh ahli dari Karolinska Institute, Swedia, orangtua berusia kelewat muda berisiko lebih tinggi untuk memiliki anak dengan gangguan spektrum autisme. Begitu juga bila jarak usia antara kedua orangtua terpaut cukup jauh. Namun, menurut temuan yang dimuat di Molecular Psychiatry ini, usia bukanlah salah satu faktor risiko penentu utama untuk autisme. “Studi ini menemukan hubungan antara usia orangtua dengan risiko autisme, namun belum membuktikan adanya hubungan sebab-akibat. Jadi, risikonya secara umum itu tergolong rendah,” kata Sven Sandin, salah satu peneliti.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *