Slot Satelit Indosat Pun Terbang Bagian 2

Operator itu menderita rugi Rp2,78 triliun pada tahun 2013 antara lain akibat selisih kurs. Bagi PT Indosat, kehilangan slot itu secara materi tidak terlalu berarti jika dilihat dari pendapatan perusahaan, karena hanya memberi pemasukan sekitar satu persen atau Rp238 miliar dari Rp23,8 triliun pendapatannya. Tetapi diakui Alex, citra (image) dari kepemilikan satelit itu besar.

Baca juga : Jasa SEO Semarang

Satu-satunya bank yang punya satelit Saat ini Indosat masih mengelola dan menyewakan dua satelit selain digunakan sendiri, yaitu satelit Palapa C2 dan Palapa D yang ditempatkan pada orbit 113 BT. Ketika masih dikelola PT Satelindo, mereka juga meluncurkan satelit Palapa C1 dari Amerika, namun terjadi anomali dan satelit melenceng arahnya dari tujuan ke orbitnya, pada tahun 1980­an.

Dengan lepasnya slot orbit 150,5 BT, PT Indosat harus menyewa satelit lain, entah satelit milik PT Telkom (Telkom1 dan Telkom2), ke AceS (Asia Cellular Satellite) atau satelit Indostar2 milik Media Citra Indostar. Besar juga kemungkinan PT Indosat menyewa satelit milik asing untuk kepentingannya sendiri dan untuk memindahkan pelanggannya yang terusir dari 150,5 BT, seperti dilakukan oleh operator telekomunikasi atau siaran televisi di Indonesia.

Saat ini termasuk pasokan dari Palapa C2, enam satelit Indonesia hanya menyediakan 110 transponder, sementara kebutuhan mencapai 230 transponder dan pertumbuhannya sekitar 6 persen setahun. Diberikannya slot 150,5 BT kepada PT BRI, walau transpondernya akan berjumlah 45 Cband dan Kuband, namun tetap saja terjadi pengurangan pasokan. Masalahnya, PT BRI sesuai UU No 36 tahun 1999 hanya diberi lisensi sebagai penyelenggara telekomunikasi khusus yang hanya boleh menggunakan transpondernya untuk kepentingan sendiri dan tidak boleh menyewakan satelitnya kepada pihak lain.

Pelanggaran terhadap aturan ini bisa menyeret PT BRI ke ranah pidana. Ini juga yang menjadi sebab kenapa pola “condosat”, PT Indosat dan BRI bersama­sama membeli satelit lalu menggunakannya bersama pula, tidak bisa dilakukan. Selain itu, dari 45 transponder satelit tadi, 30 transponder akan digunakan sendiri oleh BRI, empat lainnya diserahkan kepada pemerintah untuk kepentingan negara, dan sisanya tidak memenuhi kebutuhan PT Indosat yang sedikitnya 20 transponder pula.

Selama ini BRI menyewa transponder ke berbagai operator untuk menjalankan bisnisnya, terutama ke seluruh pelosok Indonesia, dengan biaya sekitar Rp500 miliar setahun. Dengan memiliki satelit sendiri, BRI mengklaim mendapat penghematan sebesar Rp200 miliar per tahun hingga 18 tahun usia satelit. Dengan izin sebagai penyelenggaraan telekomunikasi khusus dan akan mengorbitkan satelit, BRI akan menjadi satu­satu bank di dunia yang mengoperasikan satelit komunikasi sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *